Open Navigation

Strategi Mengubah Layanan Live Chat Menjadi Sumber Penjualan

Layanan live chat sudah banyak digunakan oleh toko online di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pemilik toko online menggunakan layanan ini untuk meningkatkan pelayanan yang berujung pada konversi penjualan, atau disebut juga dengan istilah closing. Pasalnya, ketika penjual berhadapan langsung dengan pembeli, hal ini dipercaya mampu meningkatkan persentase closing.

Live chat memang memberikan banyak kelebihan ketimbang layanan konvensional seperti via email atau telepon. Namun, pengelolaan live chat harus ditingkatkan dengan signifikan. Memasang layanan ini pada web tidak akan membuat penjualan langsung meningkat dengan tajam kalau strateginya kurang baik.

Lebih lanjut, mengelola live chat bukan pekerjaan yang gampang. Beberapa perusahaan yang mengelola toko online bahkan menyerahkan posisi ini pada mereka yang sudah ahli. Misal, staf yang memiliki kemampuan melayani konsumen dengan baik dan kemampuan persuasi yang mumpuni.

Nah, untuk mengetahui seperti apa pengelolaan layanan live chat agar lebih menarik dan mampu meningkatkan penjualan, perhatikan beberapa strategi di bawah ini dengan saksama. Lalu, praktikkan untuk bisnis online yang sedang dijalani.

1. Mengenal Bisnis yang Dijalani dengan Matang

Untuk memanfaatkan live chat dengan baik, Anda harus mengenal produk yang akan dijual. Apa saja yang ada di dalam gudang, berapa jumlahnya, dan siapa yang dijadikan target untuk bisnis ini. Kalau Anda tidak memahami produk Anda sendiri, bagaimana mungkin Anda bisa melayani konsumen dengan baik? Apa yang akan Anda katakana jika konsumen bertanya mengenai detail produk Anda?

Oleh karena itu, pelajari semua hal yang ada di dalam bisnis, terutama mengenai produk sendiri. Klasifikasi barang mana saja yang cocok untuk pasar kelas menengah, kelas atas, atau kelas bawah. Perhatikan juga harga dari setiap barang yang dijual. Apakah dengan harga yang ditetapkan mampu menarik perhatian calon pembeli atau justru membuat mereka urung untuk membeli.

Lebih lanjut, kalau Anda menugaskan seseorang untuk memegang posisi live chat, ada baiknya untuk memberi training terlebih dahulu. Atau kalau tidak ada waktu untuk memberi training, pilih yang memiliki product knowledge terbaik. Dengan kemampuan ini, layanan live chat akan mampu menangani segala bentuk pertanyaan yang diajukan oleh calon pembeli.

Jangan sesekali menempatkan orang yang kurang berpengalaman untuk posisi ini, misalnya anak magang. Live chat adalah garda depan penjualan karena berhadapan langsung dengan konsumen. Sekarang coba bayangkan, Anda ingin membeli ponsel canggih. Sayangnya orang di balik live chat tidak banyak tahu terkait dengan fitur yang ada. Apakah Anda yakin tetap akan membelinya?

Nah, agar hal seperti ini tidak terjadi, kunci utamanya adalah pahami bisnis yang Anda punyai. Lalu, buat pegawai Anda paham dengan bisnis ini, terutama terkait produk-produk yang dijual.

2. Memahami Konsumen dengan Baik

Setiap bisnis memiliki target pasar yang bermacam-macam. Ambil contoh saja untuk bisnis fesyen wanita. Pada bisnis ini ada kategori pakaian formal, kasual, anak-anak, remaja, hingga pakaian muslim. Nah, untuk meningkatkan penjualan dengan bantuan dari live chat, ada baiknya Anda memahami konsumen yang dijadikan target atau sasaran.

Kita ambil contoh, Anda akan berbisnis fesyen distro yang menargetkan anak muda usia 18-25 tahun dengan jenis kelamin wanita. Konsumen dengan kriteria ini tentu memiliki kematangan berpikir yang berbeda dengan mereka yang sudah dewasa. Penanganan saat live chat tentu tidak bisa terlalu formal. Harus ada sisi kekinian agar bisa diterima dengan baik oleh mereka.

Kalau target pasarnya adalah mereka yang sudah dewasa, tentu penanganannya juga berbeda. Cara penyampaian dalam melayani harus dilakukan dengan profesional dan meyakinkan. Jadi, tentukan dari awal akan menyasar konsumen yang mana. Kalau sejak awal sudah jelas, Anda bisa dengan mudah menentukan gaya bahasa untuk landing page dan live chat.

Setelah penggunaan bahasa bisa diatasi dengan baik, Anda bisa dengan mudah menggaet calon pembeli. Saat mereka menanyakan sesuatu, jawablah dengan jelas dan jangan lupa untuk memberi sisipan promosi. Kalau mereka meminta rekomendasi, beri yang terbaik sehingga membuka peluang lebih besar untuk melanjutkan transaksi.

3. Menjemput Bola dengan Chat

Selama ini, live chat hanya terjadi kalau ada user bertanya. Kalau tidak ada yang bertanya, praktis layanan ini tidak akan bisa berjalan dengan lancar. Nah, agar web terlihat lebih aktif, kenapa tidak menjemput bola saja? Anda bisa memulai chat terlebih dahulu begitu calon pembeli membuka landing page. Anda juga bisa menunggu beberapa detik, lalu memunculkan pop-up yang menyapa calon pembeli dan mengajak chat.

Anda bisa bertanya atau memasang pesan otomatis yang berisikan bantuan. Misal isi pesanannya seperti ini: “Halo, ada yang bisa kami bantu?” atau “Apakah ada kesulitan dalam memilih produk?”

Dari sini Anda atau tim dapat mulai bekerja untuk memberikan solusi-solusi terbaik. Kuncinya, buat calon pembeli merasa terbantu. Jawab semua pertanyaan dengan sabar hingga akhirnya mereka memutuskan akan membeli apa. Selain itu, buat calon pembeli merasa lebih nyaman sehingga mereka tahu kalau Anda bukan robot penjawab (chatbot).

Dengan ikatan yang lebih personal inilah, kemungkinan closing terjadi bisa meningkat. Jadi, tidak ada salahnya untuk menjemput bola. Selama tidak terlihat berlebihan atau memaksa, strategi ini bisa berjalan dengan baik dan lancar.

4. Mengubah Chat Biasa Menjadi Sales Chat

Secara fungsi, live chat hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antara pembeli dan pemilik usaha. Selebihnya, layanan ini digunakan untuk sedikit promosi kepada calon pembeli yang kebetulan sedang bertanya. Kalau layanan live chat tetap seperti ini, peningkatan konversi penjualan tentu sulit terjadi. Nah, untuk mengatasinya diperlukan layanan yang lebih spesifik seperti chat commerce  atau sales chat, seperti aplikasi yang dikembangkan oleh Prism.

Mengapa harus sales chat? Kalau chat live pada umunya, Anda hanya bisa memberi solusi atau menawarkan barang saja. Selebihnya, calon pembeli yang memutuskan akan membeli atau tidak. Namun, berbeda halnya dengan sales chat.

Dengan sales chat, Anda bisa menjawab pertanyaan pembeli, menggiring pembeli untuk memilih produk yang diinginkan, hingga membuatkan invoice langsung di kolom chat. Calon pembeli tidak perlu lagi melakukan serangkaian proses yang kadang menyulitkan mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah transfer sesuai dengan rekening dan nominal dari invoice.

Satu lagi kelebihan dari sales chat. Layanan ini juga menggabungkan beberapa platform chat. Anda bisa jualan dengan Line, Facebook, dan BBM. Semua platform digabungkan ke dalam satu dasbor sehingga mudah untuk pengelolaannya. Setiap ada calon pembeli bertanya, Anda bisa langsung menjawab, menawarkan barang, memberikan rekomendasi, dan membantu mereka membuat invoice. Selanjutnya, Anda hanya perlu menunggu penjualan datang terus menerus.

 

Nah, inilah beberapa strategi untuk mengubah layanan live chat menjadi sumber penjualan. Semoga bisa diterapkan.

See more

Pesatnya perkembangan dunia digital memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Dahulu, jika ingin memiliki barang-barang unik atau produk-produk branded, orang-orang kerap harus bepergian jauh ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri....

Perkembangan teknologi di era digital terbukti mampu mengubah gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Salah satu yang cukup menonjol dapat dilihat dari kebiasaan berbelanja.

Untuk berbelanja pakaian, aksesori, atau kebutuhan di...

Seiring berkembangnya teknologi digital, bisnis e-commerce kini juga kian berkembang. Mudahnya pengoperasian dan tingginya minat masyarakat untuk membeli barang secara online lambat laun membuat jumlah bisnis e-commerce...