Open Navigation

Memahami Perkembangan Tren Chat Commerce di Indonesia

Perilaku masyarakat terhadap kebiasaan chat di Indonesia menjadi salah satu faktor mengapa chat commerce memengaruhi perkembangan dunia e-commerce di sini.

Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu satu raksasa bisnis e-commerce di Asia-Pasifik. Dengan laju pertumbuhan sektor industri sebesar 37% setiap tahun, Indonesia dianggap mampu bersanding bersama Tiongkok dan India. Adapun pertumbuhan bisnis e-commerce dalam beberapa tahun terakhir dan besarnya potensi penggunaan internet lewat perangkat smartphone inilah yang menjadi faktor mengapa bisnis ini dapat tumbuh subur dalam waktu singkat.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komenkominfo) memprediksi, bisnis e-commerce di Tanah Air akan mencapai angka US$ 4,89 miliar atau sekitar lebih dari Rp68 triliun. Jumlah tersebut diyakini akan terus berkembang pesat hingga 2020 mendatang.

Oleh karenanya, pemerintah pun serius memberdayakan bisnis digital. Ini dibuktikan melalui penetapan Road Map Bisnis E-Commerce oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dalam penetapan itu, akhirnya diputuskan bahwa formalisasi peta jalan e-commerce dan penetapannya akan menjadi program nasional.

Seiring perkembangannya, e-commerce sering kali menghadirkan fitur-fitur baru nan canggih untuk melanjutkan kebutuhan performa apik bisnis. Salah satu fitur tersebut adalah chat commerce.

Chat commerce merupakan pengaplikasian platform chat ke dalam e-commerce untuk memfasilitasi kebutuhan komunikasi, baik oleh pemilik toko online (penjual) dan pengunjung (pembeli).

Tidak lama setelah diperkenalkan, fitur baru ini rupanya dengan cepat mampu mendongkrak aktivitas perdagangan berbasis digital. Beberapa riset membuktikan, adanya fitur ini sedikit-banyak mampu memengaruhi aktivitas pelanggan toko online.

Salah satu riset tersebut berasal dari eMarketer. Di sana tertulis, “sebanyak 38% orang yang terlibat dalam kegiatan belanja di sebuah situ e-commerce memutuskan untuk melakukan pembelian karena adanya chat Commerce. Sementara 63% pelanggan akan kembali melakukan pembelian pada e-commerce yang sudah dilengkapi oleh fitur live chat.

Sejarah Chat Commerce

Di awal pengaplikasiannya, chat commerce ini tidak terlepas dari kegemaran masyarakat Indonesia menjalin komunikasi melalui aplikasi chatting. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar masyarakat Indonesia menjalin komunikasi lewat aplikasi-aplikasi penyedia layanan ruang obrolan seperti Facebook Chat, Messenger, MIRC, dan lain sebagainya.

Begitu pula aktivitas perdagangan online. Meski e-commerce belum diperkenalkan, banyak pemilik toko yang sudah memanfaatkan layanan internet sebagai media pemasaran produk. Hanya saja, memang kebutuhan komunikasi pada perdagangan online di awal penetrasi intenet dilakukan dengan cara konvensional seperti melalui telepon atau bertemu langsung.

Seiring perkembangan internet di Indonesia, era e-commerce mulai diawali lewat kehadiran Kaskus dan Bhineka.com. Dari keduanya, dapat dikatakan aktivitas jual-beli sangat besar dan menguntungkan. Bahkan, hingga saat ini di tengah banyaknya e-commerce lokal atau asing.   

Kebutuhan komunikasi di awal kelahiran e-commerce lewat Kaskus dan Bhineka.com masih terbilang sangat sederhana. Penjual dan pembeli berkomunikasi lewat fitur message atau kemudian berlanjut via telepon dan chatting di aplikasi lain.

Berubah Perlahan

Tren komunikasi pada aktivitas jual beli sedikit berubah pada saat kelahiran Facebook. Sebagai ruang interaksi sosial, mulanya Facebook digunakan sebagai aplikasi untuk menjalin pertemanan. Barulah, seiring perkembangan waktu, Facebook melahirkan fitur-fitur baru yang memungkinkan penggunanya untuk berbisnis online. Dari sinilah awal komunikasi dan aktivitas berdagang disatukan di satu platform.

Metode ini lantas diadopsi dan ditambahkan beberapa fitur-fitur lainnya guna mendongkrak kebutuhan perdagangan. Salah satu yang menggunakannya, yakni e-commerce untuk menjembatani kebutuhan komunikasi antara penjual dan pembeli.

Penggunaan Chat Commerce di Dunia

Dalam pengaplikasiannya, chat commerce memang ditujukan untuk memfasilitasi kemudahan komunikasi pada bisnis berbasis internet. Melalui chat commerce, pemilik toko juga bisa langsung berjualan melalui chat yang lebih mudah, nyaman, dan tepat sasaran. Sementara bagi pelanggan, chat sendiri merupakan tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan lebih dalam, sekaligus melakukan order. Adapun keduanya dipengaruhi oleh sifat chat commerce yang lebih praktis, personal, dan real time.

PRISM Sebagai Aplikasi Chat Commerce di Indonesia

PRISM adalah penyedia platform chat-to-buy yang fokus pada layanan B2C e-commerce untuk membantu merchant meningkatkan conversion rate. Sebagai layanan chat, PRISM dilengkapi dengan fitur attention grabber, agar para pelanggan yang mengunjungi situs toko online dapat merasa ‘disapa’. Selain itu, fitur ini juga berfungsi sebagai pintu komunikasi sales agent dengan pelanggan. Aplikasi PRISM dapat diintegrasikan pula ke platform chat lainnya seperti FB Messenger, Line, BBM, dan yang sebentar lagi menyusul adalah WhatsApp. Jadi Anda tak perlu berpindah aplikasi chat untuk melayani pelanggan.

Dengan menggunakan PRISM, pemilik toko juga dimudahkan dalam memproses pembelian dengan lebih efektif dan efisien. Proses ini bahkan dimulai sejak customer datang ke website untuk berbelanja. Ketika pertama kali berkunjung, pelanggan akan dilayani soal pertanyaan produk hingga melakukan transaksi.

Setidaknya, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan sebagai pemilik toko agar transaksi berjalan dengan nyaman dan memuaskan.

1. Informasi Detail tentang Produk

Ada baiknya melengkapi produk Anda dengan informasi mendetail. Ini bisa mencakup ukuran produk, serta gambaran dimensi yang memudahkan pengunjung mengukur tanpa harus mencobanya langsung. Jika perlu, jawab dengan detail seluruh pertanyaan customer, plus product preview berbentuk foto, deskripsi singkat, serta harga.

2. Berikan Gambaran Total Pembelian dan Biaya Pengiriman

Setelah customer memilih produk, Anda bisa langsung mencantumkan beberapa informasi terkait pembelian; seperti total harga dan biaya pengiriman. Adapun penghitungan ini bisa dilakukan secara manual atau otomatis melalui shipping integration dengan penyedia layanan ekspedisi.

3.  Kirim Invoice

Mintalah customer mengisi lengkap data pembelian. Setelahnya, kirimkan invoice mencakup informasi order melalui chat. Nah, melalui PRISM, setiap invoice bisa langsung tercatat sebagai transaksi dalam situs (hanya bila tersambung dengan product integration).

Potensi Chat Commerce di Masa Depan

Seperti halnya teknologi yang terus berkembang, layanan chat commerce juga belum sampai pada tahap final. Dengan kata lain, masih bisa dikembangkan lebih lanjut untuk semakin mempermudah setiap kebutuhan komunikasi dalam industri e-commerce.

Jika saat ini layanan Chat Commerce masih dikelola oleh manusia (pemilik toko online) yang notabene tidak akan selamanya bisa menanggapi pelanggan selama 24 jam, bisa jadi, kelak fitur ini akan dikelola oleh sebuah robot yang dirancang khusus dengan algoritme tertentu. Jadi, pelanggan akan mendapatkan layanan selama 24 jam penuh; selayaknya berkomunikasi dengan manusia.    

See more

Pesatnya perkembangan dunia digital memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Dahulu, jika ingin memiliki barang-barang unik atau produk-produk branded, orang-orang kerap harus bepergian jauh ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri....

Perkembangan teknologi di era digital terbukti mampu mengubah gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Salah satu yang cukup menonjol dapat dilihat dari kebiasaan berbelanja.

Untuk berbelanja pakaian, aksesori, atau kebutuhan di...

Seiring berkembangnya teknologi digital, bisnis e-commerce kini juga kian berkembang. Mudahnya pengoperasian dan tingginya minat masyarakat untuk membeli barang secara online lambat laun membuat jumlah bisnis e-commerce...